Selasa, 10 September 2013

Apabila Engkau ingin berargumen dalam satu tema maka hendaknya dilakukan dengan penuh ETIKA dan cara terbaik yang jauh dari sikap bersuara keras dan hendak menjatuhkannya.

Apabila gurumu keliru dalam satu hal, dan engkau ingin menunjukkan letak kesalahannya, maka janganlah engkau mengatakan, "Engkau Salah" atau ungkapan sejenisnya, dan janganlah engkau senang dengan kesalahannya akan tetapi pastikan permasalahan itu, dan hendaknya peringatanmu kepadanya dengan ungkapan terindah atau dengan isyarat lembut yang memungkinkan gurumu mengetahui kesalahannya tanpa engkau menyesakkan hatinya.

jagalah adab menuntut ilmu terhadapnya, jangan sampai engkau memotong pembicaraannya atau engkau sibuk sendiri ketika ia memulai pelajarannya.

Jika engkau dapatkan kasih sayang, dan engkau dapatkannya terus menerus maka peliharalah adab berbicara kepada gurumu,

jika ia memulai pembicaraan maka jangan engkau lanjutkan, jika ia menunjukkan hal yang mengagumkan maka kagumlah, jika ia melucu maka tersenyumlah, dan jika ia memberikan kesimpulannya maka tampakkan kegembiraan dan sikap - sikap lain yang memancing kecintaan dan membuang jauh kebosanan dan kekasaran.

Kemudian suatu keniscayaan bagi para guru untuk memperhatikan sisi perasaan yang tulus dan pengaruhnya, agar hubungan mereka dengan murid - muridnya seperti hubungan seorang ayah dengan anaknya.

Wahai guru, jika engkau ingin murid - muridmu menyukaimu maka cintailah mereka. Jika engkau harapkan mereka memperlakukanmu layaknya seorang ayah maka perlakukan mereka layaknya anakmu. karena karakteristik dasar para pelajar adalah mereka mau menyukai orang yang berusaha menyukai mereka, mereka menurut kepada orang yang berbuat baik dan lembut kepada mereka, dan menyambut mereka dengan keceriaan dan senyuman.

Selama pelajar tidak merasakan bahwa gurunya mencintainya dan mengharapkan kebaikan kepadanya maka ia tidak akan bersedia belajar kepadanya, sekalipun ia yakin bahwa kebaikan ada pada gurunya.

KEBAIKAN MANAKAH YANG MUNGKIN DAPAT MENJADI SEMPURNA TANPA ADA CINTA?


Selasa, 14 Mei 2013

Guru dan murid merupakan masyarakat ini mewakili golongan terbesar, sebab mayoritas berada di antara posisi pengajar atau pelajar, atau bahkan sedang memerankan fungsi tersebut. Tidak dipungkiri jika bidang ini menjadi kancah paling memungkinkan untuk bertemu, mempengaruhi dan memberi manfaat baik secara individu maupun untuk ummat.

Kendati demikian, engkau temukan bahwa bahasa perasan nyaris terkubur pada diri sebagian orang - orang yang bergabung dalam kancah besar ini. Engkau lihat sebagian pelajar kurang memberi penghargaan kepda gurunya. Engkau dapati sebagian mereka melepaskan lisannya untuk mencaci dan mencela para gurunya, banyak dari mereka yang tidak sopan dalam berinteraksi, tidak mengajukan pertanyaan, tidak menerapkan etika pelajar secara umum, mungkin sering terlambat datang dalam mengikuti pelajaran, atau menyibukkan gurunya dengan pertanyaan - pertanyaan yang hanya dimaksudkan untuk memojokkannya, atau memalingkan wajahnya dari guru saat ia menyampaikan pelaajran, atau sibuk sendiri dengan koran dan buku sementara gurunya mengetahui apa yang sedang ia kerjakan.

Inilah fenomena yang mengesankan bahwa orang yang melakukan perbuatan seperti ini adalah orang yang tidak mengetahui hak -hak ilmu dan tidak beradab dengan pemiliknya. sementara itu dalam waktu yang sama  ia merapuhkan ikatan kasih sayang antara guru dan muridnya.

Dipihak lain, engkau temukan beberapa guru yang sangat kasar dan keras di luar batas kewajaran, engkau lihat ia tidak peduli dengan murid - muridnya, ia tidak berbicara dengan mereka kecuali dengan ungkapan - ungkapan mengejek, merendahkan dan kasar.

Seperti yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad Thahir bin Absyur tentang beberapa pendidik masa sekarang yang memberikan "pelajaran" kepada anak - anak kecil, dan berbicara kepada mereka dengan nada marah,

"Wahai anak - anak burung tempat sampah, 
hasil dari kenistaan, bacalah 


Dan kalian tidak membaca kecuali sihir dan kebatilan 

semoga Allah bebas dari kalian secepatnya, bukan nanti
(Alaisa as-Shubhu bi Qarib, ibnu Asyur hl. 65)

Bukan ungkapan seperti ini untuk menggiring unta dungu, dan tidak pula seperti ini hubungan antara murid dengan gurunya. Apabila pendidikan berlangsung dengan cara ini, maka apa jadinya potret generasi yang terdidik dengan interaksi yang seperti ini?!!...

Karenanya, alangkah baiknya bagi siswa (pelajar) untuk menghormati dan menghargai para gurunya, sekalipun menurutnya mereka ini belum mumpuni.

Wahai para pelajar, ambillah kebaikan yang ada pada gurumu, lalu tugasmu adalah memberi masukkan, mendo'akan dan memujinya. Jika tidak maka tidak ada sedikitpun hak bagimu untuk mencela dan mengkritiknya.

bersambung....

Rabu, 08 Mei 2013

Beberapa yang menyebabkan perilaku durhaka,

Tidak mendidik anak secara Islam

Anak - anak tidak mengetahui hak - hak orang tua

Perselisihan dalam keluarga

Teman yang berakhlak buruk

Menuruti Istri secara berlebihan

Berlebih - lebihan dalam memanjakan anak - anak dan menyediakan segala fasilitas yang mewah dalam mendidik anak - anak

terkadang, sebagian anak yang tumbuh dalam lingkungan Islami, selalu menghafal al-Qur'an dan hadir dalam majlis - majlis ilmu, tetapi ia juga berbuat durhaka kepada orang tua.

Keutamaan dan hak seorang ibu sangat besar, melebihi hak semua makhluk di dunia, kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

sebagian anak menganggap harta warisan melebihi hak berbakti kepada ibunya, terutama sepeninggal ayahnya.

kadang kala, hak - hak psikologis seorang anak yang tidak terpenuhi dapat menimbukan perilaku durhaka pada dirinya, terutama sekali jika kedua orang tuanya selalu bertengkar.

Keadaan fakir, miskin dan yatim

Tidak mendidik anak secara Islam

Tidak mungkin anak - anak akan menghormati dan berbakti kepada orang tua mereka, jika tidak dididik dengan baik, bahkan tidak mungkin anak - anak mendo'akan mereka.
Apabila para orang tua tidak pernah mengajarkan akhlak dan perilaku Islami kepada anak - anak mereka pada masa kecil, lalu bagaimana mungkin anak - anak mereka akan mendo'akan orang tuanya ketika besar nanti?!.
Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam sangat memperhatikan hal itu, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ayyub bin Musa, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, 
"Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlak yang baik". (HR. at-Tirmidzi).

Anak - anak tidak mengetahui hak - hak orang tua


Hal ini mempunyai peran yang sangat besar tidak terlaksananya hak - hak orang tua. mungkin disebabkan karena mereka tidak terdidik oleh orang tua pada masa kecilnya.

Perselisihan dalam keluarga

Apabila kedua orang tua selalu bertengkar, saling tuduh antara suami istri, suami tidak menghormati istri, dan begitu juga sebaliknya, maka berkuranglah rasa hormat anak - anak terhadap kedua orang tua mereka. karena ayah mempunyai fisik yang kuat dan anak - anak takut jika ia memukul mereka, maka anak - anak tidak bisa memperlihatkan sikap tidak menghormati ayah mereka. Lain halnya dengan ibu karena ia bersikap lembut dan sayang terhadap anak - anak, sehingga anak - anak lebih berani untuk menentang dan tidak berbakti kepadanya, serta mengeraskan suara di hadapan ibunya. Bahkan dalam keadaan keluarga yang dipenuhi pertengkaran antara ayah dan ibu, terkadang seorang ayah menyuruh anak - anak untuk menentang dan durhaka kepda ibunya. Naudzu billahi mindzaalik.

Teman yang berakhlak buruk

Karena teman yang berakhlak buruk mempunyai peran yang sangat besar dalam menjadikan anak berakhlak buruk dan durhaka kepada kedua orang tua, karena seserong akan selalu meniru sikap temannya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa rasulullah shalalahu 'alaihi wasallam bersabda, 
"Seseorang itu tergantung dengan agama temannya, maka hendaklah setiap kalian meliyhat siapa temannya". (HR. at-Tirmidzi, ia mengatakan, "Hadits ini hasan Gharib").

Menuruti Istri secara berlebihan 

Sebagian orang - semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka - Setelah menikah ia sangat menuruti istri mereka sehingga ia tidak melakukan sesuatu, kecuali atas izin istri, begitu juga, berbakti kepada orang tua harus selalu atas izin istrinya.

Berlebih - lebihan dalam memanjakan anak - anak dan menyediakan segala fasilitas yang mewah dalam mendidik anak - anak

Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab anak durhaka kepada orang tua. Orang yang bijaksana tidak akan mendidik anaknya seperti itu, tetapi akan mendidik dengan tegas, diiringi kelembutan dan kasih sayang sesuai dengan batasnya. Oleh karena itu, ia memanjakan anaknya dan bersikap tegas sesuai dengan tempatnya, sehingga, tidak harus selalu memanjakan mereka dan bersikap tegas setiap waktu.

terkadang, sebagian anak yang tumbuh dalam lingkungan Islami, selalu menghafal al-Qur'an dan hadir dalam majlis  - majlis ilmu, tetapi ia juga berbuat durhaka kepada orang tua.

Apabila hal ini terjadi, berarti ada kesalahan dalam mendidik, seperti perselisihan keluarga, kekerasan dalam pendidikan, atau orang tua tidak berbuat adil kepada anak - anaknya, semua hal tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan akhlak anak ketika dewasa kelak. Bahkan mungkin anak akan durhaka kepada orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati - hati dalam masalah tersebut, dan jangan merasa tenang, karena bisa jadi hal itu menyebabkan timbulnya perilaku atau sikap durhaka dari anak - anak.

Keutamaan dan hak seorang ibu sangat besar, melebihi hak semua makhluk di dunia, kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Meskipun demikian, seorang ibu yang bijaksana janganlah memanfaatkan keutamaan itu, dengan memberikan ....

sebagian anak menganggap harta warisan melebihi hak berbakti kepada ibunya, terutama sepeninggal ayahnya.

kadang kala, hak - hak psikologis seorang anak yang tidak terpenuhi dapat menimbukan perilaku durhaka pada dirinya, terutama sekali jika kedua orang tuanya selalu bertengkar.

Keadaan fakir, miskin dan yatim

Sabtu, 28 Juli 2012

 

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Zir bin Hubaisy dia berkata: Ada dua orang sedang duduk sambil makan siang. Salah seorang di antaranya memegang 5 (lima) potong roti dan seorang lagi memegang 3 (tiga) potong roti. Tatkala mereka mulai makan, tiba – tiba ada seorang laki – laki datang dan mengucapkan salam. Kedua orang itu berkata: Duduk dan makan sianglah. Orang tadi duduk dan makan bersama kedua orang itu. Ketiganya makan dengan kadar yang sama dalam pembagian delapan potong roti tadi. Orang yang ikut makan tadi berdiri dan memberikan kepada mereka uang sebanyak delapan dirham. Dia berkata, “ Ambillah uang itu sebagai ganti makanan yang saya makan tadi.”

Kedua orang itu mulai bertengkar. Orang yang memiliki lima roti berkata. “saya mendapat bagian lima dirham sedangkan engkau mendapat tiga. Orang yang memiliki tiga potong roti itu berkata, “saya tidak rela dengan cara pembagian ini kecuali jika dibagi menjadi dua bagian, “lalu keduanya mengajukan permasaahan ini kepada Imam Ali Radhiallahu Anhu. Mereka mengisahkan kisah tadi.

Imam Ali Radhiallahu Anhu berkata, “Temanmu yang memiliki lima potong roti telah menawarkan kepadamu apa yang dia tawarkan. Dia memiliki roti lebih banyak dari kamu. Maka relalah kamu dengan tiga bagian dirham itu.

Namun orang itu berkata: “ saya tidak rela kecuali engan pembagian yang hak, benar dan jujur.”

Imam Ali radhiallahu Anhu berkata:” sebenarnya pembagian yang hak bagimiu itu adalah mendapat satu dirham sedangkan dia harus mendapat tujuh dirham”.

orang itu berkata:” Subhanallahu! jika memang demikian adanya. maka perlihatkanlah kepada saya cara pembagian yang benar dan saya akan menerima dengan senang hati”.

Ali radhiallahu Anhu berkata:” Bukankah delapan potong roti itu menjadi 24/3. dan kalian makan tiga orang. Dan tidak ada di antara kalian yang makan jauh lebih banyak atau lebih sedikit kecuali semuanya mendapat bagian yang sama. Kamu makan 8/3. sedangkan yang kamu miliki adalah 9/3. Kawanmu juga makan 8/3 dan dia memiliki bagian 15/3. sedangkan tujuh lagi siswa dari miliki kawanmu dimakan oleh pemilik dirham. sedangkan dia hanya makan satu dari milikmu. Maka dengan demikian kamu pantas mendapat satu, sedangkan temanmu pantas mendapat tujuh dirham. Apakah engkau Rela?!.

---------------------------- Tarikh Khulafa karya Imam as-Suyuthi, pustaka kautsar hlm. 208

Terlintas di benak kita satu kisah di atas bahwa keadilan itu memang hak dan benar adanya tanpa kepentingan di salah satu pihak tapi menyenangkan di kedua pihak. Lihat saja kebesaran hati pemilik lima roti dengan kepentingan pemilik tiga roti.

sungguh pembagian secara spontan dengan hati yang besar begitu menyenangkan meskipun di dalamnya ada kezhaliman (sebenarnya). tapi atas kebesaran hati tersebut adanya kasih sayang di antara keduanya.

tapi permintaan seseorang manusia yang menuntut keadilan akan pembagian menjadi dua bagian adalah suatu kepicikan (kezhaliman) yang mesti dipikirkan ulang. hal tersebut telah terjawab dengan hak dan keadilan yang sebenar-benarnya adil tanpa adanya kepentingan sebelah pihak.

BEGITULAH ISLAM DENGAN HUKUM – HUKUMNYA MAMPU MENCIPTAKAN SUASANA KEHIDUPAN  YANG DAMAI DAN PENUH BERKAH DARI SEGALA ARAH TANPA MENGITIMIDASI ATAU MENGEKSPLOITASI GOLONGAN ATAU PRIBADI MELAINKAN BERSAMA – SAMA DALAM SATU KEADILAN TANPA MENZHALIMI LAIN PIHAK.

seperti pembagian waris sesungguhnya laki – laki mendapat 2 bagian sedangkan perempuan mendapatkan 1 bagian dari harta warisan. ada istilah dari kampung penulis bahwa kalo laki – laki itu beban di pikul sedangkan perempuan itu beban di letakkan di atas kepala (nama dari istilahnya penulis lupa)

Keadilan mana yang universal kecuali Islam. Beda dengan HAM hanya orang yang memiliki kekuasaanlah yang akan menikmati segalanya.

Jumat, 06 Juli 2012

Pembaca!!! Penulis sedikti membaca dari postingan tetangga http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/10/10/bila-buah-hati-anda-takut-hantu/ menuliskan judul “postingan bila si buah hati takut hantu”. Hal ini memang telah menjadi realita yang berkepanjangan di abad ini, yang seharusnya hal – hal tersebut telah lenyap di makan zaman namun justru menjadi menjamur di musim penghujan….. ya. ini karena banyaknya makelar – makelar di sekeliling kita yang menjual kacang goreng cerita – cerita mistik dan klenik serta media penyebar ketakutan bagi generasi muda saat ini.

hal ini membuat penulis merasa iba dan gerah terhadap kelakuan – kelakuan mekalar – makelar tersebut bahkan kalo boleh penulis katakan bahwa mereka yang mengaku sebagai pendidikpun merelakan anak didiknya dicekoki hal – hal tersebut dan mereka bangga bisa menceritakan akan hal demikian demi ketenaran cerita serta membuat ketakutan mereka, sehingga si pendidik yang gila tersebut menjadi dikagumi akibat hal demikian. Sesungguhnya ini bukanlah termasuk jiwa pendidik melainkan jiwa syaithon merusak generasi muda, Musang berbulu domba.

baiklah cukup berpanjang lebar, mari kita langsung membaca isi dari yang penulis baca tanpa merubahnya sedikitpun, untuk menjadi i’tibar bagi pembaca, terkhusus orang tua yang memiliki si kecil! semoga bermanfaat……..

Hati orang tua mana yang tidak kecewa, bila si buah hati menjadi anak yang penakut. Kalau ketakutan si anak masih dalam batas wajar, misalnya takut terhadap binatang yang lebih besar badannya dari dirinya, atau takut terhadap binatang yang menjijikkan, terhadap orang-orang asing yang belum dikenalnya; semua itu tidaklah menjadi masalah besar dalam pendidikan pribadi anak. Tetapi takut terhadap kegelapan dan takut hantu, hal ini bisa berakibat fatal bagi pembentukan pribadi anak, bila tidak ditangani sedini mungkin. Bukankah kita menginginkan agar anak-anak menjadi manusia mukmin dan mukminah yang kuat imannya, mampu mengemban amanah ubudiyyah lillahi wahdah (beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata) dengantauhid dan tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata serta tidak takut celaan manusia?

Marilah kita cermati, mengapa anak-anak menjadi takut hantu dan bagaimana dampak negatifnya. Pada dasarnya, anak terlahir dengan tidak mempunyai rasa takut terhadap segala sesuatu. Setelah dia tumbuh seiring dengan perkembangannya mengenal lingkungan, bertambahlah pengalamannya. Ada yang takut berjalan karena pernah jatuh. Ada yang takut naik becak, karena pernah melihat becak terguling bersama tukang becak dan penumpangnya. Demikian pula anak yang takut hantu. Dia menjadi takut hantu karena mendapat informasi tentang hantu, baik dari temannya, kerabatnya, orang tuanya sendiri atau informasi lainnya.

Dewasa ini berbagai media informasi, semisal televisi, radio, buku bacaan, VCD dan yang lainnya, marak dengan cerita-cerita misteri dan seram. Mereka semua menebar kerusakan hanya demi mengeruk keuntungan, tanpa memperdulikan dampak buruk bagi mental bangsa. Siapapun orangnya, tanpa terkecuali orang dewasa, terlebih lagi anak-anak, bila sering dicekoki dengan cerita-cerita bertema syetan dan cerita seram lainnya, akan tertanam pada dirinya jiwa penakut. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat ia selalu menerima informasi yang berupa bisikan syetan dan perasaan was-was. Padahal kita selaku mukmin diperintahkan untuk selalu berlindung kepada Allah k dari godaan syetan. Nabi r besabda,

إِنَّ الشَيْطَانَ يَجْرِيْ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya syetan itu mengalir pada Bani Adam pada aliran darahnya.[1]

Rasa takut yang mencekam terhadap hantu dan syetan, bisa menjadi syirik akbar, yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, bila membawa manusia bersikap beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya, karena takut syetan, seseorang mengucapkan mantera untuk jin, yang biasanya mantera ini didapat dari dukun atau biasa disebut dengan “orang pintar” padahal sok pintar. Atau ia menggantung jimat di badannya, di rumahnya, di kendaraanya dan lain-lain, dengan keyakinan bahwa jimat tersebut dapat menolak bala dan bahaya. Adapun bila rasa takut (yang sebenarnya tidak beralasan itu) tidak membawa kepada beribadah (apapun bentuknya) kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni hanya ketakutan dan cekaman rasa was-was, maka hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam, yang memerintahkan kita untuk tidak takut kepada selain Allah, mengurangi kesempurnaan tauhiddan merupakan sifat pengecut yang tercela.[2]

MENANGGULANGI SIFAT TAKUT HANTU PADA ANAK

Setelah memahami penyebab rasa takut pada anak, maka kita bisa mengambil kesimpulan, sebagai solusi untuk membasmi rasa takut tersebut.  Di antaranya sebagai berikut:

  • Menanamkan tauhid dan keimanan pada anak.

Orang tua atau pendidik harus menjelaskan kepada anak, bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat, kecuali kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruh makhluk, termasuk jin dan syetan berada di bawah pengaturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila Allah Subhanahu wa Ta’alamentaqdirkan seseorang selamat, maka meskipun segenap jin dan menusia mengerahkan upayanya untuk mencelakakan, ia tidak akan celaka. Sebaliknya bila Allah Subhanahu wa Ta’alamentaqdirkan seseorang celaka, ia akan celaka, walaupun segenap upaya dikerahkan untuk menyelamatkannya. Karena itu tidak perlu takut terhadap jin, hantu, bahkan pada perampok, pembunuh atau dukun santet. Ingatlah selalu pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas berikut ini:

وَ اعْلَمْ أَنَّ الأمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أنْ يَنْفَعُوْكَ بِشِيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ

وَ إنِ اجْتَمَعُوْا علَى أنْ يَضُرُّوْكَ  بِشِيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ.

رُفِعَتِ الأقْلاَمُ وَ جَفَّتِ الصُحُفُ

Ketahuilah, seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, tidaklah mereka itu akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang memang telah Allah tetapkan untukmu. Dan bila mereka bersatu untuk memberimu suatu kecelakaan, mereka tidak akan bisa mencelakaknmu dengan sesuatupun kecuali sesuatu yang memang telah Allah tetapkan kecelakaan untukmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering”. [3]

  • Ajarkan wirid dan do’a yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi seorang mukmin. Karena jin, syetan serta para penjahat adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kita harus berdo’a kepada AllahSubhanahu wa Ta’ala agar menghindarkan kita dari ganguan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada ummat Beliau do’a dan wirid sehari-hari. Wirid pagi dan sore, do’a keluar masuk rumah, do’a mendengar lolongan anjing, do’a masuk WC, do’a singgah di suatu tempat dan lain-lain. Para orang tua dan pendidik seharusnya mengajarkan do’a-do’a tersebut dengan penuh kesungguhan.

  • Sebisa mungkin jauhkanlah anak-anak dari cerita-cerita hantu, pembunuhan dan cerita misteri yang semisalnya. Gantilah semua itu dengan cerita-cerita kepahlawanan para mujahidin, keberanian Nabi dan para sahabat Beliau. Mereka semua tidak gentar melawan orang-orang kafir dengan segala tipu dayanya.

Ada satu kisah teladan yang sangat menarik. Pernah satu ketika  seorang sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam mengendap-endap di belakang seorang tukang sihir yang dengan bangganya memperagakan tipuan sulap sihirnya di hadapan para pejabat dan khalayak ramai. Setelah dekat, ia menghunus pedang dan memenggal kepala tukang sihir itu sambil mengucapkan,

حَدُّ السَّاحِرُ ضَرْبَةً بِالسَّيْفِ

“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang”. Kemudian sahabat tersebut berujar kembali,”Bila ia memang benar, silahkan ia kembalikan lagi kepalanya ke badannya.”[4]

Serta masih banyak lagi kisah-kisah menarik utuk putra-putri kita.

  • Bila orang tua penakut, jangan menampakkan sifat pnegevut ini di ahdapan anak-anak. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang kadang kala orang tua tidak sadar mengatakan sesuatu yang menampakkan sifat pengecutnya di hadapan anak-anak. Misalnya, orang tua menyuruh anak-anak masuk rumah menjelang maghrib, lalu menutup pintu sambil mengatakan,”Ayo masuk. Hiiiiiih……nanti kalau tidak mau masuk ada hantu”. Atau si ibu menjerit ketika listrik padam, sementara ibu sedang berada di kamar mandi. Para orang tua hendaklah belajar mengendalikan emosinya di hadapan anak-anak ketika menghadapi keadaan-keadaan yang mencekam. Memang tidak sedikit para orang tua yang punya sifat penakut. Mereka dibesarkan dalam lingkungan yang memaksa sifat “takut” yang tidak beralasan ini mengendap di dasar hatinya, di luar kemauan dan kehendaknya. Tetapi sebagai orang tua yang bertanggung jawab, tidak seharusnya sifat jelek itu kita turunkan kepada putra-putri kita. Karena itu hendaknya para orang tua lebih menanamkan pada hatinya tauhid dan keimanan, agar jiwa mereka menjadi tegar. Si buah hati pun diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bertauhid serta tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu waliyyut taufiq

(Ummu Khaulah)

Artikel www.salafiyunpad.wordpress.comdisalin dari kumpulan naskah Majalah As-Sunnah

Maraji:

- Al Qur’anul Karim. – I’anatul Mustafidh Syarhu Kitabit Tauhid, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Jilid I, Cetakan II, Muassasah Ar Risalah.


[1] Hadits ini disepakati oleh Bukhari dan Muslim.

[2] Untuk lebih jelasnya silahkan menelaah penjelasan Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan dalam kitabnya yang  berjudul I’anatul Mustafidh Syarh Kitabit Tauhid, Jilid I ketika menjalaskankhauf (takut) dan macam-macamnya.

[3]  HR Tirmidzi dan ia berkata,”Hadits ini hasan shahih.” Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini dalam Shahihul Jami’, 7834.

[4] Untuk lebih jelasnya, silakan menelaah penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dalam kitab I’anatul Mustafidh Syarhu Kitabi At Tauhid, Jilid I, ketika menjalaskan hadits “Haddus Sahiri” di atas.

Unordered List

Sample Text

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.

Verval SP

Japodadik

Sireal

Lapor BOS

Sirkas

Sirkas
Link Sirkas

PUPNS

PUPNS
Link PUPNS

Peta

Haram Merokok

Haram Merokok

e-Formasi

e-Formasi
Link e-Formasi

Daftar Blog Saya

Data Referensi

GIS

PIP

VIP

NISN

Verval PD

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget

Video

ini sumber lhoo