Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2014

Dampak buruk televisi bagi anak kian diyakini oleh para pakar kesehatan. Penelitian terbaru menyimpulkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi perkembangan otak bayi. Hal ini diungkapkan oleh sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran di Jerman, Neu Isenburg, awal pekan ini.

Bahkan, acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi,” Demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat dalam majalah tersebut. Bayi, lanjutnya, mengalami gangguan

‘belajar’ akibat televisi, demikian laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm ini.

Menurut Manfred Spitzer, bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi. Spitzer mengatakan bahwa dalam satu penelitian di Amerika Serikat, sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa Cina. Sementara, sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi.
Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa Cina. Namun, kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apa pun dari yang dilihatkan di televisi.

Dampak buruk televisi ternyata tak hanya sampai di situ saja. Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya.
Satu penelitian lainnya melibatkan 1.000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan bulan hingga 16 bulan. Kesimpulannya, jika bayi secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata delapan persen lebih banyak dari rata-rata. Sebaliknya, jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara “Baby TV” atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata.

Kamis, 04 September 2014

Pernahkah kita menghardik anak dengan kalimat seperti, “Papa/Mama tidak suka bila kamu begini/begitu!” atau “Papa/Mama tidak mau kamu berbuat seperti itu lagi!” Namun kita lupa menjelaskan secara rinci dan dengan baik, hal2 atau tindakan apa saja yang kita inginkan. Anak tidak pernah tahu apa yang diinginkan atai dibutuhkan oleh orang tuanya dalam hal berperilaku. Akibatnya anak terus mencoba sesuatu yang baru.

Dari sekian banyak percobaan yang dilakukannya, ternyata selalu dikatakan salah oleh orang tuanya. Hal ini mengakibatkan mereka berbalik untuk dengan sengaja melakukan hal2 yang tidak disukai orang tuanya. Tujuannya untuk mrmbuat orang tuanya kesal sebagia bentuk kekesalan yang juga ia alami (tindakannya selalu salah di hadapan orang tua).

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Sampaikanlah hal2 atau tindakan2 yang kita inginkan atau butuhkan pada saat kita menegur mereka terhadap perilaku atau hal yang tidak kita sukai.Komnikasikan secara intensif hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan. Dan pada waktunya, ketika mereka sudah megalami dan melakukan segala hal atau perilaku yang kita inginkan atau butuhkan , ucapkanlah terimakasih dengan tulus dan penuh kasih sayang atas segala usahanya untuk berubah.

Sumber
“Adik, jangan naik ke atas meja! nanti jatuh dan nggak ada yang mau menolong!”
“Jangan ganggu adik, nanti Mama/Papa marah!”

Dari sisi anak pernyataan yang sifatnya melarang atau perintah dan dilakukan dengan cara berteriak tanpa kita beranjak dari tempat duduk atau tanpa kita menghentikan suatu aktivitas, pernyataan itu sudah termasuk ancaman. Terlebih ada kalimat tambahan “….nanti Mama/Papa marah!”

Seorang anak adalah makhluk yang sangat pandai dalam mempelajari pola orang tuanya; dia tidak hanya bisa mengetahui pola orang tuanya mendidik, tapi dapat membelokkan pola atau malah mengendalikan pola orang tuanya. Hal ini terjadi bila kita sering menggunakan ancaman dengan kata-kata,namun setelah itu tidak ada tindak lanjut atau mungkin kita sudah lupa dengan ancaman-ancaman yang pernah kita ucapkan

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Kita tidak perlu berteriak-teriak seperti itu. Dekati si anak, hadapkan seluruh tubuh dan perhatian kita padanya. tatap matanya dengan lembut, namum perlihatkan ekspresi kita tidak senang dengan tindakan yang mereka lakukan. Sikap itu juga dipertegas dengan kata-kata, “Sayang, Papa/Mama mohon supaya kamu boleh meminjamkan mainan ini pada adikmu. Papa/Mama akan makin sayang sama kamu.” Tidak perlu dengan ancaman atau teriaka-teriakan. Atau kita bisa juga menyatakan suatu pernyataan yang menjelaskan suatu konsekuensi, misal “Sayang, bila kamu tidak meminjamkan mainan in ke adikmu,Papa/Mama akan menyimpan mainan ini dan kalian berdua tidak bisa bermain. MAinan akan Papa/Mama keluarkan, bila kamu mau pinjamkan mainan itu ke adikmu. Tepati pernyataan kita dengan tindakan.

Sumber
Awalnya anak-anak kita adalah anak yang selalu mendengarkan kata-kata orang tuanya, Mengapa? KArena mereka percaya sepenuhnya pada orang tuanya. Namun, ketika anak beranjak besar, ia sudah tidak menuruti perkataan atau permintaan kita? Apa yang terjadi? Apakah anak kita sudah tidak percaya lagi dengan perkataan atau ucapan-ucapan kita lagi?

Tanpa sadar kita sebagai orang tua setiap hari sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak berkeliling perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengalihkan perhatian si kecil ke tempat lain, setelah itu kita buru-buru pergi? Atau yang ekstrem kita mengatakan, “Papa/Mama hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya, sebentaaar saja ya, Sayang.” Tapi ternyata, kita pulang malam. Contah lain yang sering kita lakukan ketika kita sedang menyuapi makan anak kita, “Kalo maemnya susah, nanti Papa?Mama tidak ajak jalan-jalan loh.” Padahal secara logika antara jalan-jalan dan cara/pola makan anak, tidak ada hubungannya sama sekali.

Dari beberapa contah di atas, jika kita berbohong ringan atau sering kita istilahkan “bohong kecil”, dampaknya ternyata besar. Anak tidak percaya lagi dengan kita sebagai orang tua. Anak tidak dapat membedakan pernyataan kita yang bisa dipercaya atau tidak. akibat lebih lanjut, anak menganggap semua yang diucapkan oleh orang tuanya itu selalu bohong, anak mulai tidak menuruti segala perkataan kita.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan penuh kasih dan pengertian:

“Sayang, Papa/Mama mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo Papa/Mama ke kebun binatang, kamu bisa ikut.”

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita harus bersabar dan lakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami keadaan mengapa orang tuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut. Sebaliknya bila pergi ke tempat selain kantor, anak pasti diajak orang tuanya. Pastikan kita selalu jujur dalam mengatakan sesuatu. Anak akan mampu memahami dan menuruti apa yang kita katakan.

Sumber

Sewaktu anak kita masih kecil dan belajar jalan tidak jarang tanpa sengaja mereka menabrak kursi atau meja. Lalu mereka menangis. Umumnya, yang dilakukan oleh orang tua supaya tangisan anak berhenti adalah dengan memukul kursi atau meja yang tanpa sengaja mereka tabrak. Sambil mengatakan, “Siapa yang nakal ya? Ini sudah Papa/Mama pukul kursi/mejanya…sudah cup….cup…diem ya..Akhirnya si anak pun terdiam.

Ketika proses pemukulan terhadap benda benda yang mereka tabrak terjadi, sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak kita bahwa ia tidak pernah bersalah.

Yang salah orang atau benda lain. Pemikiran ini akan terus terbawa hingga ia dewasa. Akibatnya, setiap ia mengalami suatu peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang keliru atau salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar. Akibat lebih lanjut, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi, atau hukuman adalah orang lain yang tidak melakukan suatu kekeliruan atau kesalahan.

Kita sebagai orang tua baru menyadari hal tersebut ketika si anak sudah mulai melawan pada kita. Perilaku melawan ini terbangun sejak kecil karena tanpa sadar kita telah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika si anak yang baru berjalan menabrak sesuatu sehingga membuatnya menangis?

Yang sebaiknya kita lakukan adalah ajarilah ia untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakanlah padanya (sambil mengusap bagian yang menurutnya terasa sakit): ” Sayang, kamu terbentur ya. Sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja dulu supaya tidak membentur lagi.”

Sumber

Senin, 10 Februari 2014

banjar_menulisSemua pelajar cerdas harus meyakini 12 prinsip tentang sekolah dan proses belajar, yaitu:
# 1
Tidak ada seorangpun yang dapat mengajari Anda sebaik diri Anda sendiri
# 2
Belajar itu tidak cukup hanya dengan mendengarkan para guru Anda berbicara dan memenuhi segala tugas – tugas yang diberikannya
# 3
Tidak setiap tugas membaca atau bertanya merupakan pendapat subyektif, sehingga bukan segala – galanya.
# 4
Peringkat atau rangking itu hanyalah merupakan pendapat subyektif, sehingga bukan segala – galanya
# 5
Berbuat salah dan sesekali tampak tolol adalah harga yang harus Anda bayar selama belajar dan latihan.
# 6
Maksud sebuah pertanyaan itu adalah untuk supaya Anda berfikir - tidak hanya sesederhana untuk dijawab.
# 7
Sekolah itu adalah tempat Anda untuk belajar memikirkan diri Anda sendiri, bukan hanya untuk mengulang apa yang telah dikatakan guru dan buku - buku teks akademik.
# 8
Mata pelajaran itu tidak selalu tampak menarik dan relevan dengan kebutuhan Anda, namun bersikap aktif terlibat untuk mempelajarinya lebih baik daripada bersikap pasif dan tidak mempelajarinya.
# 9
Sedikit sesuatu yang cenderung sulit, menimbulkan frustasi, atau menakutkan seperti belajar sungguh - sungguh, sudah tidak ada satupun yang sangat menghargai dan memberdayakan.
# 10
Seberapa baik prestasi Anda di sekolah hanya mencerminkan sikap dan metode belajar Anda, bukan menunjukkan kemampuan belajar Anda sesungguhnya.
# 11
Jika Anda mengerjakannya demi peringkat atau demi mendapatkan penghargaan dari yang lain, maka berarti Anda sedang mengharapkan kepuasan dari proses belajar Anda, dan meletakkan harga diri Anda pada rasa belas kasihan terhadap sesuatu di luar kendali Anda.
# 12
Sekolah hanyalah sebuah permainan, tetapi ia merupakan permainan yang sangat penting.
Ya benar, kata-kata yang dilontarkan ayah terlalu kejam dan tak berperikemanusiaan. Walaupun belum tentu kita sendiri bisa menghindari kata-kata seperti ini bila dihadapkan dalam kondisi emosi serupa.

Kesalahan utama yang akan kita kupas dalam hal ini adalah reaksi ayah yang menyerang dan mencerca keburukan pribadi anaknya. Dengan fasihnya ayah menyebut lwan sebagai'anak bandel', juga'anak tak tahu aturan', kemudian 'pencuri' dan perampok'.

Kalimat-kalimat ini menyiratkan bahwa kesalahan-kesalahan itu terjadi akibat keburukan subyek.
Orang memang sering lupa, melakukan kesalahan seperti yang dilakukan ayah lwan ini. Mereka tidak membedakan antara. pribadi si anak dengan perilaku yang ia kerjakan.

Bagaimana seharusnya?

'Pencuri' tentu lain dengan 'mencuri'.
Mereka yang disebut sebagai pencuri adalah mereka yang memang jahat dan mempunyai pekeriaan sebagai pencuri. Tetapi ingat bahwa pencurian tidak hanya bisa dilakukan oleh seorang 'pencuri', tetapi bisa dilakukan oleh seorang anak baik-baik, ketika mungkin satu kali ia sedang khilaf.

Anak ini tidak mencuri terus-menerus yang kemudian pantas disebut pencuri.

Keadaan akan lebih baik jika dalam kasus lwan tersebut ayah bereaksi,
"Wah, kenapa kau lakukan itu? Begitu kau perlukankah uang tersebut?"

Merasa cukup dihargai karena tak langsung dijatuhkan pribadinya, lwan akan berterus terang,
"Tidak terlalu perlu sebetuinya. Aku hanya jengkel pada Teddy." Mungkin, alasan yang dikatakan lwan hanya dibuat-buat untuk membela diri.

Ini wajar dilakukan setiap anak. Akan lebih baik jika orang tua bersikap bijaksana dengan memberikan empati."Oh, kau merasa sudah disakiti? Waiar jika ingin balas dendam."

Secara fitrah, anak yang dihargai dan diberi kepercayaan seperti ini selanjutnya akan lebih terbuka mengungkapkan isi hatinya.
"Ya, Teddy suka mengadu ke bu guru. Dikatakannya saya ini nakal, suka mengganggu dan mencuri."

Ayah bisa memberi komentar,
"Tetapi Nak, jika kejengkelanmu itu kau lampiaskan dengan cara mencuri, sama sekali tak akan memperbaiki keadaan. jika ketahuan justru kau yang rugi dan malu. Walau tak ketahuan pun hanya akan membuatmu terbiasa mencuri hingga besar nanti. Paling-paling kau hanya bisa membuat temanmu jengkel sebentar saja. Ini sama sekali bukan jalan keluar yang baik. Tidak ksatria. Seorang anak yang gagah dan jujur tak semestinya melakukan perbuatan tercela seperti itu."

Nah, dalam kalimat terakhir nasehatnya ayah justru menyebutkan tentang pribadi yang gagah dan jujur.
Betapapun besar kesalahan perilaku itu, jangan sampai mengubah konsep penghargaan orang tua terhadap pribadi anak. Pribadi ini harus dihargai dan dijunjung, untuk selanjutnya diingatkan bahwa pribadi yang seperti ini tak pantas melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Senin, 03 Februari 2014


Harus dibedakan, antara pribadi anak dengan perilakunya.

Kalau perilaku bisa saia salah, tetapi pribadi anak tetap senantiasa baik.

Ayah meletakkan majalah yang sedang dibacanya ketika Iwan datang dengan ragu dan kepala setengah tertunduk. Dengan lesu tangannya menyodorkan selembar kertas kepada ayah sembari bergumam,
"Minta tanda tangan, Yah."

Sedikit mengangkat alis ayah menerima kertas itu dan membacanya.
Dalam lembaran tersebut tertulis dua puluh kalimat yang ditulis angan oleh Iwan, “Saya berjanji tidak akan mencuri uang lagi.”

Sedetik kemudian wajah ayah telah berubah menjadi merah dan sinar matanya menyala garang.
"Ah, anak bandel. Apa lagi yang kau perbuat hari ini? Belum puas-puasnya kau membuat malu ayahmu?"
Yang ditanya hanya diam tertunduk. Ayah meletakkan majalah dengan kasar di meja dan merenggut badan lawn dengan kasar agar mendekat.

"Dasar anak tak tahu aturan! Pencuri! Masih kecil sudah pandai mencuri, jadi apa kau kalau besar nanti? Mau jadi perampok? Memalukan!"

Ya, orang tua mana yang tak malu jika anaknya yang baru duduk di Sekolah Dasar sudah ketahuan dua kali mencuri uang milik temannya?
Itu pula yang menyebabkan ayah wawan menjadi naik pitam dan begitu berang mengetahui kebengalan anaknya. Sepintas, reaksi ayah terasa wajar. La dikuasai emosi, karena begitu kecewa dan marah mengetahui perbuatan buruk lwan.

Akan tetapi, ditinjau dari sisi pendidikan, reaksi ayah ini keliru. Bisa berakibat buruk terhadap anak. Selain tak akan mampu mencegah anak untuk berbuat kesalahan di kali yang lain, juga tak akan menumbuhkan motivasi anak untuk menjadi anak yang baik. Tahukah Anda dimana letak kekeliruan ayah?

Bersambung

Selasa, 21 Januari 2014

    عن عبد الوهاب ابن الورد عن رجل من أهل المدينة قال : كتب معاوية إلى عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها أن اكتبي إلي كتابا توصيني فيه ولا تكثري علي فكتبت عائشة رضي الله عنها إلى معاوية سلام عليك أما بعد فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول من التمس رضاء الله بسخط الناس كفاه الله مؤنة الناس ومن التمس رضاء الناس بسخط الله وكله الله إلى الناس والسلام عليك
    Artinya:
    Dari ‘Abdul Wahaab bin Al Wirdh, dari seseorang diantara penghuni Madinah berkata, “Mu’awiyyah رضي الله عنه telah menulis kepada ‘Aa’isyah رضي الله عنها (ummul mu’minin) :
    “Tulislah padaku suatu tulisan yang didalamnya engkau menasehatiku dan jangan engkau perbanyak.”
    Maka ‘Aa’isyah رضي الله عنها pun menulis kepada Mu’awiyyah رضي الله عنه
    “Selamat atasmu:

    Amma Ba’du,
    Sungguh aku mendengar Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa mencari ridho Allooh سبحانه وتعالى dengan kemurkaan manusia, maka Allooh سبحانه وتعالى akan cukupkan dia dari beban manusia. Dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan murka Allooh سبحانه وتعالى, maka Allooh سبحانه وتعالى akan membiarkan dia tergantung pada manusia.
    Wassalamu’alaika.”
    (Hadits Riwayat Imaam At Turmudzy no: 2414, di-shohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany رحمه الله)

Minggu, 19 Januari 2014

"Maka hendaklah bagi para penuntut ilmu untuk,
1. Mencurahkan tenaganya dalam memperbanyak ilmu.
2. Bersabar menghadapi tantangan dalam menuntut ilmu
3. Mengikhlaskan niat karena Alloh untuk menggapai ilmunya secara Nash ataupun istinbath (menggali hukum).
4. Berdo'a mengharapkan pertolongan Alloh, karena tidak mungkin meraih kebaikan kecuali dengan pertolongan-Nya".

(ar-Risalah Karya Imam Syafi'i hal. 19)

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya 
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?”
Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.


Inilah jawabannya;
1.      Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
2.   Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
3.      Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

  1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
  2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
  3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
  4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
  5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
  6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
  7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
  8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
  9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
  10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
  11. Anak belajar bekerjasama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
  12. 12.   Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.


Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya.
Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.
1.        Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
2.        Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
3.        Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
4.        Ada orang tua yang malah marah-marah karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5.        dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, Sekolah-sekolah dan Kementerian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan Moral pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak-anak yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik, Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu, ... ..mau ?

Salam syukur penuh berkah...

sumber

Selasa, 07 Januari 2014

SEBUAH PERKARA AGUNG YANG DILALAIKAN BANYAK KALANGAN PENGAJAR DAN PENDIDIK. yaitu membangun dan menanamkan prinsip mengkikhlaskan ilmu dan amal untuk Alloh. 

Ini merupakan perkara yang tidak dipahami banyak orang, karena jauhnya mereka dari manhaj ROBBANI. 

DEMI ALLOH, berapa banyak ilmu yang bermanfaat dan amal - amalan yang mulia untuk UMMAT, namun pemiliknya tidak emdnapat bagian manfaat darinya sedikitpun dan pergi begitu saja bersama hembusan angin bagaikan demu yang beterbeangan. 

yang demikian itu disebabkan karena pemiliknya tidak mengikhlaskan ilmu dan amal merka serta tidak menjadikannya di jalan ALLOH. 

TUJUAN Mereka bukan untuk emmberikan manfaat kepada saudara - saudara mereka kaum MUSLIMIN dengan ilmu dan pengetahuan serta amal - amalan tersebut. TUJUAN mereka hanya semata meraih KEHORMATAN atau KEDUDUKAN dan yang sejenisnya. karena itu sangat layak bila amalan - amaln tersebut pergi begitu saja bagaikan debu yang beterbangan. 

Ya Benar, adakalanya mereka itu emdnapatkan manfaat dnegan ilmu dan pengetahuan mereka di dunia, berupa sanjungan, pujian dan sejenisnya, tetapi ujung -ujungnya bermuara kepada kesirnaan. 

Barangkali hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Rodhiallohu anhu melukiskan makna tersebut.

"Dan seorang laki - laki yang belajar dan emgnajarkan ilmu serta membaca al-Qur'an, lalu ia didatangkan dan Alloh mengingatkan nikmat - nikmat-Nya (kepadanya) dan diapun mengenalnya. Alloh berfirman, "Apa yang kamu lakukan padanya?" dia berkata, "saya belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur'an demi Engkau, Alloh berfirman, "Kamu berdusta, akan tetapi kamu belajar ilmu supaya dikatakan alim, kamu membaca al-Qur'an supaya dikatakan Qari, dan itu telah dikatakan," kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam api Neraka... " (HR. Muslim dalam kitab al-Imarah, an-Nasa'i dalam al-Jihad, Ahmad dalam baqi' musnad Mukhsirin, dan at-Tirmdzi dalam az-Zuhd).

karena itu semestinya bagi para pendidik dan pengajar agar menanamkan sifat ikhlas dalam ilmu dan amal untuk Alloh pada DIRI ANAK DIDIKNYA, juga sifat mengahfap pahala dan ganjaran dari Alloh. Kemudian jika setelah itu ia memperoleh sanjungan dan pujian dari manusia, itu adalah anugerah dan nikmat dari Alloh, dan bagi Alloh-lah segala pujian. 

Ibnu Rajab rahimahullah, berkata," Adapun jika dia melakukan sebuah amalan, murni untuk Alloh, kemudian Alloh melemparkan pujian baik baginya di hati orang - orang Mukmin dengan hal itu, lalu dia merasa senang dengan anugerah dan rahmat Alloh serta merasa gembira dengannya, maka hal itu tidak mengapa baginya. Poros dari semua itu adalah niat dan niat tempatnya adalah di dada, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Alloh. 

"Katakanlah, jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Alloh mengetahuinya" (QS. ali-Imran: 29)

Maka bagi siapa yang niatnya murni untuk Alloh, hendaklah berbahagia dengan pengabulan amalnya dan ganjaran pahala dari Alloh. 

--
Dari Umar bin al-Khaththab radhiallohu anhu, berkata. Saya pernah mendengar Rosululloh shalallohu 'alaihi wasallam bersabda, 


"sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena motivasi dunia yang hendak dicapainya ATAU lantaran seorang wanita untuk dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya" (HR. Mutafaq Alaih)


==================

Kesimpulan: 

  1. Merupakan KEWAJIBAN bagi seorang pengajar untuk menanamkan hakikat ikhlas pada diri anak didiknya.
  2. seorang pengajar harus menyertakan hakikat tersebut semenjak awal dan terus - menerus mengingatkannya.

Selasa, 10 September 2013

Apabila Engkau ingin berargumen dalam satu tema maka hendaknya dilakukan dengan penuh ETIKA dan cara terbaik yang jauh dari sikap bersuara keras dan hendak menjatuhkannya.

Apabila gurumu keliru dalam satu hal, dan engkau ingin menunjukkan letak kesalahannya, maka janganlah engkau mengatakan, "Engkau Salah" atau ungkapan sejenisnya, dan janganlah engkau senang dengan kesalahannya akan tetapi pastikan permasalahan itu, dan hendaknya peringatanmu kepadanya dengan ungkapan terindah atau dengan isyarat lembut yang memungkinkan gurumu mengetahui kesalahannya tanpa engkau menyesakkan hatinya.

jagalah adab menuntut ilmu terhadapnya, jangan sampai engkau memotong pembicaraannya atau engkau sibuk sendiri ketika ia memulai pelajarannya.

Jika engkau dapatkan kasih sayang, dan engkau dapatkannya terus menerus maka peliharalah adab berbicara kepada gurumu,

jika ia memulai pembicaraan maka jangan engkau lanjutkan, jika ia menunjukkan hal yang mengagumkan maka kagumlah, jika ia melucu maka tersenyumlah, dan jika ia memberikan kesimpulannya maka tampakkan kegembiraan dan sikap - sikap lain yang memancing kecintaan dan membuang jauh kebosanan dan kekasaran.

Kemudian suatu keniscayaan bagi para guru untuk memperhatikan sisi perasaan yang tulus dan pengaruhnya, agar hubungan mereka dengan murid - muridnya seperti hubungan seorang ayah dengan anaknya.

Wahai guru, jika engkau ingin murid - muridmu menyukaimu maka cintailah mereka. Jika engkau harapkan mereka memperlakukanmu layaknya seorang ayah maka perlakukan mereka layaknya anakmu. karena karakteristik dasar para pelajar adalah mereka mau menyukai orang yang berusaha menyukai mereka, mereka menurut kepada orang yang berbuat baik dan lembut kepada mereka, dan menyambut mereka dengan keceriaan dan senyuman.

Selama pelajar tidak merasakan bahwa gurunya mencintainya dan mengharapkan kebaikan kepadanya maka ia tidak akan bersedia belajar kepadanya, sekalipun ia yakin bahwa kebaikan ada pada gurunya.

KEBAIKAN MANAKAH YANG MUNGKIN DAPAT MENJADI SEMPURNA TANPA ADA CINTA?


Selasa, 14 Mei 2013

Guru dan murid merupakan masyarakat ini mewakili golongan terbesar, sebab mayoritas berada di antara posisi pengajar atau pelajar, atau bahkan sedang memerankan fungsi tersebut. Tidak dipungkiri jika bidang ini menjadi kancah paling memungkinkan untuk bertemu, mempengaruhi dan memberi manfaat baik secara individu maupun untuk ummat.

Kendati demikian, engkau temukan bahwa bahasa perasan nyaris terkubur pada diri sebagian orang - orang yang bergabung dalam kancah besar ini. Engkau lihat sebagian pelajar kurang memberi penghargaan kepda gurunya. Engkau dapati sebagian mereka melepaskan lisannya untuk mencaci dan mencela para gurunya, banyak dari mereka yang tidak sopan dalam berinteraksi, tidak mengajukan pertanyaan, tidak menerapkan etika pelajar secara umum, mungkin sering terlambat datang dalam mengikuti pelajaran, atau menyibukkan gurunya dengan pertanyaan - pertanyaan yang hanya dimaksudkan untuk memojokkannya, atau memalingkan wajahnya dari guru saat ia menyampaikan pelaajran, atau sibuk sendiri dengan koran dan buku sementara gurunya mengetahui apa yang sedang ia kerjakan.

Inilah fenomena yang mengesankan bahwa orang yang melakukan perbuatan seperti ini adalah orang yang tidak mengetahui hak -hak ilmu dan tidak beradab dengan pemiliknya. sementara itu dalam waktu yang sama  ia merapuhkan ikatan kasih sayang antara guru dan muridnya.

Dipihak lain, engkau temukan beberapa guru yang sangat kasar dan keras di luar batas kewajaran, engkau lihat ia tidak peduli dengan murid - muridnya, ia tidak berbicara dengan mereka kecuali dengan ungkapan - ungkapan mengejek, merendahkan dan kasar.

Seperti yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad Thahir bin Absyur tentang beberapa pendidik masa sekarang yang memberikan "pelajaran" kepada anak - anak kecil, dan berbicara kepada mereka dengan nada marah,

"Wahai anak - anak burung tempat sampah, 
hasil dari kenistaan, bacalah 


Dan kalian tidak membaca kecuali sihir dan kebatilan 

semoga Allah bebas dari kalian secepatnya, bukan nanti
(Alaisa as-Shubhu bi Qarib, ibnu Asyur hl. 65)

Bukan ungkapan seperti ini untuk menggiring unta dungu, dan tidak pula seperti ini hubungan antara murid dengan gurunya. Apabila pendidikan berlangsung dengan cara ini, maka apa jadinya potret generasi yang terdidik dengan interaksi yang seperti ini?!!...

Karenanya, alangkah baiknya bagi siswa (pelajar) untuk menghormati dan menghargai para gurunya, sekalipun menurutnya mereka ini belum mumpuni.

Wahai para pelajar, ambillah kebaikan yang ada pada gurumu, lalu tugasmu adalah memberi masukkan, mendo'akan dan memujinya. Jika tidak maka tidak ada sedikitpun hak bagimu untuk mencela dan mengkritiknya.

bersambung....

Rabu, 08 Mei 2013

Beberapa yang menyebabkan perilaku durhaka,

Tidak mendidik anak secara Islam

Anak - anak tidak mengetahui hak - hak orang tua

Perselisihan dalam keluarga

Teman yang berakhlak buruk

Menuruti Istri secara berlebihan

Berlebih - lebihan dalam memanjakan anak - anak dan menyediakan segala fasilitas yang mewah dalam mendidik anak - anak

terkadang, sebagian anak yang tumbuh dalam lingkungan Islami, selalu menghafal al-Qur'an dan hadir dalam majlis - majlis ilmu, tetapi ia juga berbuat durhaka kepada orang tua.

Keutamaan dan hak seorang ibu sangat besar, melebihi hak semua makhluk di dunia, kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

sebagian anak menganggap harta warisan melebihi hak berbakti kepada ibunya, terutama sepeninggal ayahnya.

kadang kala, hak - hak psikologis seorang anak yang tidak terpenuhi dapat menimbukan perilaku durhaka pada dirinya, terutama sekali jika kedua orang tuanya selalu bertengkar.

Keadaan fakir, miskin dan yatim

Tidak mendidik anak secara Islam

Tidak mungkin anak - anak akan menghormati dan berbakti kepada orang tua mereka, jika tidak dididik dengan baik, bahkan tidak mungkin anak - anak mendo'akan mereka.
Apabila para orang tua tidak pernah mengajarkan akhlak dan perilaku Islami kepada anak - anak mereka pada masa kecil, lalu bagaimana mungkin anak - anak mereka akan mendo'akan orang tuanya ketika besar nanti?!.
Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam sangat memperhatikan hal itu, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ayyub bin Musa, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, 
"Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlak yang baik". (HR. at-Tirmidzi).

Anak - anak tidak mengetahui hak - hak orang tua


Hal ini mempunyai peran yang sangat besar tidak terlaksananya hak - hak orang tua. mungkin disebabkan karena mereka tidak terdidik oleh orang tua pada masa kecilnya.

Perselisihan dalam keluarga

Apabila kedua orang tua selalu bertengkar, saling tuduh antara suami istri, suami tidak menghormati istri, dan begitu juga sebaliknya, maka berkuranglah rasa hormat anak - anak terhadap kedua orang tua mereka. karena ayah mempunyai fisik yang kuat dan anak - anak takut jika ia memukul mereka, maka anak - anak tidak bisa memperlihatkan sikap tidak menghormati ayah mereka. Lain halnya dengan ibu karena ia bersikap lembut dan sayang terhadap anak - anak, sehingga anak - anak lebih berani untuk menentang dan tidak berbakti kepadanya, serta mengeraskan suara di hadapan ibunya. Bahkan dalam keadaan keluarga yang dipenuhi pertengkaran antara ayah dan ibu, terkadang seorang ayah menyuruh anak - anak untuk menentang dan durhaka kepda ibunya. Naudzu billahi mindzaalik.

Teman yang berakhlak buruk

Karena teman yang berakhlak buruk mempunyai peran yang sangat besar dalam menjadikan anak berakhlak buruk dan durhaka kepada kedua orang tua, karena seserong akan selalu meniru sikap temannya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa rasulullah shalalahu 'alaihi wasallam bersabda, 
"Seseorang itu tergantung dengan agama temannya, maka hendaklah setiap kalian meliyhat siapa temannya". (HR. at-Tirmidzi, ia mengatakan, "Hadits ini hasan Gharib").

Menuruti Istri secara berlebihan 

Sebagian orang - semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka - Setelah menikah ia sangat menuruti istri mereka sehingga ia tidak melakukan sesuatu, kecuali atas izin istri, begitu juga, berbakti kepada orang tua harus selalu atas izin istrinya.

Berlebih - lebihan dalam memanjakan anak - anak dan menyediakan segala fasilitas yang mewah dalam mendidik anak - anak

Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab anak durhaka kepada orang tua. Orang yang bijaksana tidak akan mendidik anaknya seperti itu, tetapi akan mendidik dengan tegas, diiringi kelembutan dan kasih sayang sesuai dengan batasnya. Oleh karena itu, ia memanjakan anaknya dan bersikap tegas sesuai dengan tempatnya, sehingga, tidak harus selalu memanjakan mereka dan bersikap tegas setiap waktu.

terkadang, sebagian anak yang tumbuh dalam lingkungan Islami, selalu menghafal al-Qur'an dan hadir dalam majlis  - majlis ilmu, tetapi ia juga berbuat durhaka kepada orang tua.

Apabila hal ini terjadi, berarti ada kesalahan dalam mendidik, seperti perselisihan keluarga, kekerasan dalam pendidikan, atau orang tua tidak berbuat adil kepada anak - anaknya, semua hal tersebut mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan akhlak anak ketika dewasa kelak. Bahkan mungkin anak akan durhaka kepada orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua harus berhati - hati dalam masalah tersebut, dan jangan merasa tenang, karena bisa jadi hal itu menyebabkan timbulnya perilaku atau sikap durhaka dari anak - anak.

Keutamaan dan hak seorang ibu sangat besar, melebihi hak semua makhluk di dunia, kecuali Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Meskipun demikian, seorang ibu yang bijaksana janganlah memanfaatkan keutamaan itu, dengan memberikan ....

sebagian anak menganggap harta warisan melebihi hak berbakti kepada ibunya, terutama sepeninggal ayahnya.

kadang kala, hak - hak psikologis seorang anak yang tidak terpenuhi dapat menimbukan perilaku durhaka pada dirinya, terutama sekali jika kedua orang tuanya selalu bertengkar.

Keadaan fakir, miskin dan yatim

Sabtu, 28 Juli 2012

 

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Zir bin Hubaisy dia berkata: Ada dua orang sedang duduk sambil makan siang. Salah seorang di antaranya memegang 5 (lima) potong roti dan seorang lagi memegang 3 (tiga) potong roti. Tatkala mereka mulai makan, tiba – tiba ada seorang laki – laki datang dan mengucapkan salam. Kedua orang itu berkata: Duduk dan makan sianglah. Orang tadi duduk dan makan bersama kedua orang itu. Ketiganya makan dengan kadar yang sama dalam pembagian delapan potong roti tadi. Orang yang ikut makan tadi berdiri dan memberikan kepada mereka uang sebanyak delapan dirham. Dia berkata, “ Ambillah uang itu sebagai ganti makanan yang saya makan tadi.”

Kedua orang itu mulai bertengkar. Orang yang memiliki lima roti berkata. “saya mendapat bagian lima dirham sedangkan engkau mendapat tiga. Orang yang memiliki tiga potong roti itu berkata, “saya tidak rela dengan cara pembagian ini kecuali jika dibagi menjadi dua bagian, “lalu keduanya mengajukan permasaahan ini kepada Imam Ali Radhiallahu Anhu. Mereka mengisahkan kisah tadi.

Imam Ali Radhiallahu Anhu berkata, “Temanmu yang memiliki lima potong roti telah menawarkan kepadamu apa yang dia tawarkan. Dia memiliki roti lebih banyak dari kamu. Maka relalah kamu dengan tiga bagian dirham itu.

Namun orang itu berkata: “ saya tidak rela kecuali engan pembagian yang hak, benar dan jujur.”

Imam Ali radhiallahu Anhu berkata:” sebenarnya pembagian yang hak bagimiu itu adalah mendapat satu dirham sedangkan dia harus mendapat tujuh dirham”.

orang itu berkata:” Subhanallahu! jika memang demikian adanya. maka perlihatkanlah kepada saya cara pembagian yang benar dan saya akan menerima dengan senang hati”.

Ali radhiallahu Anhu berkata:” Bukankah delapan potong roti itu menjadi 24/3. dan kalian makan tiga orang. Dan tidak ada di antara kalian yang makan jauh lebih banyak atau lebih sedikit kecuali semuanya mendapat bagian yang sama. Kamu makan 8/3. sedangkan yang kamu miliki adalah 9/3. Kawanmu juga makan 8/3 dan dia memiliki bagian 15/3. sedangkan tujuh lagi siswa dari miliki kawanmu dimakan oleh pemilik dirham. sedangkan dia hanya makan satu dari milikmu. Maka dengan demikian kamu pantas mendapat satu, sedangkan temanmu pantas mendapat tujuh dirham. Apakah engkau Rela?!.

---------------------------- Tarikh Khulafa karya Imam as-Suyuthi, pustaka kautsar hlm. 208

Terlintas di benak kita satu kisah di atas bahwa keadilan itu memang hak dan benar adanya tanpa kepentingan di salah satu pihak tapi menyenangkan di kedua pihak. Lihat saja kebesaran hati pemilik lima roti dengan kepentingan pemilik tiga roti.

sungguh pembagian secara spontan dengan hati yang besar begitu menyenangkan meskipun di dalamnya ada kezhaliman (sebenarnya). tapi atas kebesaran hati tersebut adanya kasih sayang di antara keduanya.

tapi permintaan seseorang manusia yang menuntut keadilan akan pembagian menjadi dua bagian adalah suatu kepicikan (kezhaliman) yang mesti dipikirkan ulang. hal tersebut telah terjawab dengan hak dan keadilan yang sebenar-benarnya adil tanpa adanya kepentingan sebelah pihak.

BEGITULAH ISLAM DENGAN HUKUM – HUKUMNYA MAMPU MENCIPTAKAN SUASANA KEHIDUPAN  YANG DAMAI DAN PENUH BERKAH DARI SEGALA ARAH TANPA MENGITIMIDASI ATAU MENGEKSPLOITASI GOLONGAN ATAU PRIBADI MELAINKAN BERSAMA – SAMA DALAM SATU KEADILAN TANPA MENZHALIMI LAIN PIHAK.

seperti pembagian waris sesungguhnya laki – laki mendapat 2 bagian sedangkan perempuan mendapatkan 1 bagian dari harta warisan. ada istilah dari kampung penulis bahwa kalo laki – laki itu beban di pikul sedangkan perempuan itu beban di letakkan di atas kepala (nama dari istilahnya penulis lupa)

Keadilan mana yang universal kecuali Islam. Beda dengan HAM hanya orang yang memiliki kekuasaanlah yang akan menikmati segalanya.

Sabtu, 21 April 2012




 ... Dari Anas Bin Malik Radhiyallaahu 'Anhu Dia Berkata, : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Berkata Kepadaku :
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ
“Wahai Anakku, Jika Kamu Mau Masuk Menemui Keluargamu, Ucapkanlah Salam, Niscaya Akan Menjadi Berkah Bagimu Dan Bagi Keluargamu. ” ( Hadits Riwayat. At - Tirmizi No. 2698 Dan Dinyatakan Shahih Oleh Al - Albani Dalam Al - Kalim Ath - Thayyib No. 62 ).
Dari Tsabit Al - Bunani Rahimahullah Dia Berkata, :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبْيَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ وَقَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ
“ Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu Bahwa Dia Pernah Melewati Anak - Anak Kecil, Lalu Ia Memberi Salam Kepada Mereka Dan Berkata, : “ Nabi - Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Selalu Melakukan Hal Ini. ”
( Hadits Riwayat. Al - Bukhari No. 6247 Dan Muslim No. 2168 ).
Penjelasan Ringkas :
Syariat Pengucapan Salam Mempunyai Beberapa Adab Yang Harus Diperhatikan Oleh Seorang Muslim, Baik Berkenaan Dengan Kapan Salam Tersebut Diucapkan Maupun Kepada Siapa Dia Diucapkan. Di Antara Adab Tersebut Adalah :
Di Antara Waktu Di Syariatkannya Mengucapkan Salam Adalah Ketika Akan Masuk Ke Dalam Rumah. Dan Ini Berlaku Umum Baik Dia Kepala Rumah Tangga Maupun Bukan. Karena Dalam Hadits Pertama Di Atas, Nabi 'Alaihishshalatu Wassalam Memerintahkan Anas Melakukannya Padahal Ketika Itu Beliau Masih Kecil.
Di Antaranya Juga Adalah Ketika Bertemu, Yakni Disyariatkan Untuk Mengucapkan Salam. Dan Ini Bersifat Umum, Baik Yang Ditemui Itu Adalah Orang Dewasa Maupun Anak - Anak, Sebagaimana Yang Dilakukan Oleh Nabi 'Alaihishshalatu Wassalam Dan Diikuti Oleh Anas Bin Malik Radhiyallaahu 'Anhu.
Beberapa Pelajaran Dari Kedua Hadits Di Atas :
1. Amar Ma’ruf Kepada Anak Kecil Guna Membiasakan Mereka Beradab Dengan Adab Islami.
2. Ucapan Salam Yang Kita Ucapkan, Keberkahannya Kembali Kepada Diri Kita Sendiri Dan Kepada Yang Kita Salami.
3. Salam Tersebut Diucapkan Sebelum Masuk Rumah, Bukan Setelah Berada Di Dalamnya.
4. Besarnya Kecintaan Dan Ittiba` Para Shahabat Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Sehingga Mereka Meniru Semua Perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Walaupun Itu Memberi Salam Kepada Anak Kecil.
5. Dalam Berdalil, Seseorang Boleh Menyebutkan Hukumnya Terlebih Dahulu Baru Setelah Itu Menyebutkan Dalilnya. Di Sini Anas Bin Malik Radhiyallaahu 'Anhu Berbuat Terlebih Dahulu Baru Kemudian Membawakan Dalilnya Dari Perbuatan Nabi 'Alaihishshalatu Wassalam.
6. Tawadhu` Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Tatkala Beliau Memberikan Salam Kepada Anak Kecil. Bahkan Lahiriah Hadits Anas Bin Malik Radhiyallaahu 'Anhu Menunjukkan Beliau Selalu Melakukan Hal Itu Ketika Bertemu Anak - Anak.
7. Rahmat Dan Kasih Sayang Beliau Kepada Anak Kecil.

Lihat Selengkapnya

Kamis, 22 Maret 2012

Pendidikan merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungannya termasuk lingkungan alam dan lingkungan manusia. Di dalam intearksi tersebut manusia bukan hanya mengusahakan interaksi dengan sesama manusia, namun dengan alamnya sehingga dapat megembangkan potensi manusia secara optimal, seharusnya..!! sebagaimana dengan fitrah jati dirinya.

Sebagaimana peran penting yang dijalaninya Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem Pendidikan, tidak dipungkiri memiliki kontribusi yang cukup mapan untuk menyokong pembentukan karakter bangsa dengan berbagai strategi dan metode yang cukup dalam. Tengok saja, sistem pengajaran yang diwajibkan bagi setiap anak sebagai peserta didik yang harus dicetak secara integrasif sehingga calon anak cerdas dalam keimanan Islam bukan dibentuk ketika sudah aqil baliq (baca: dewasa), namun jauh sebelum ibunya mengandung proses transformasi itu sudah harus ditanamkan oleh sifat pembawaan orang tua. begitu juga di masa-masa kehamilan, bahkan sampai proses kelahiran, tumbuh dari anak sampai mencapai remaja dan dewasa..adalah sebuah proses pengkaderan karakter yang harus selalu terjaga dan terpantau oleh orang tua, (seharusnya) sampai kemudian sang anak memilih untuk berpisah dengan orang tuanya karena memilih untuk menikah, maka lepaslah tanggungjawab mendidik dari orang tuanya.

Kondisi ini membutuhkan respon yang aktif-kreatif untuk memberdayakan pendidikan Islam untuk meresponnya. Sejalan dengan gencarnya kampanye pendidikan karakter yang harus kembali menjadi spirit dan motivasi setiap pribadi pembelajar baik guru dan siswa dalam lingkungan pendidikan, di mana dalam setiap interaksinya pengayaan bahkan pendalaman pendidikian karakter Islami bisa dimulai dari dimana guru dan siswa itu berada. Hal inilah yang menjadikan Karakterisitk lokal dari setap pribadi pembelajar yang akan turut menetukan tumbuh kembangnya pengetahuan dan kecerdasan berwawasan kebangsaan dan berkarakter Islami. Inilah yang akan disajikan sebagai solusi dari merosotnya moralitas bangsa.

Ada tiga pilar pendidikan karakter yang perlu dikembangkan di Indonesia menurut Doni Koesoema, (11//02/2010) seperti dimuat dalam kompas yaitu: (1) Desain pendidikan karakter berbasis kelas, (2) desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah dan (3) Desain Pendidikan karakter berbasis komunitas. Sementara menurut Bashori (15/03/2010) yang dimuat di Media Indonesia menyatakan bahwa:” Dalam pendidikan karakter penting sekali dikembangkan nilai-nilai etika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan–sebagai basis karakter yang baik”.

Nilai-nilai religi dan pengaruh kondisi lokalitas termasuk mentalitas dan budaya, sebagaimana sentil di atas, akan sangat efektif dan bermanfaat apabila juga dipraktikkan kemudian diajarkan oleh guru setiap lembaga pendidikan termasuk sekolah, bukan seperti yang kebanyakan terjadi saat ini, bahwa semua hanya berupa teori,  yang kebanyakan hanya sampai pada proses pembelajaran tapi bukan pada penerapan suri tauladan yang dipraktikkan sang pengajar baik guru maupun dosen. mengajarkan Disiplin dan Moralitas yang baik, tapi tidak berlaku disiplin dan tidak bermoral yang baik, misalnya, adalah bentuk penyimpangan antara niat, kata dan perbuatan sang pengajar terhadap eksistensinya sebagai pengajar yang terdidik.

Tidak berperilaku sebagaimana pengajar yang jujur, adil dan tidak berwibawa adalah bagian dari perilaku tidak berkarakter. sementara memiliki tatanan karakter yang konsisten dan dibuktikan antara kata dan perbuatan, inilah yang masih sulit terjadi di negeri kita…

bagaimana anda melihatnya?

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/10/pendidikan-islam-mendidik-dengan-karakter-bukan-mengajar-tentang-karakter/

1. Prinsip Imajinasi, sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin dengan bantuan imajinasi yang kreatif.

2. Prinsip Kecerdasan Mempertahankan Hidup, jangan pernah merasa senang di zona nyaman dengan bermalas-malasan,lakukan apa yang diminati,sampai menjadi ahli dibidang tersebut

3. Prinsip Pengetahuan Paling Pokok, belajarlah terus menerus, karena belajar akan membuat kita semakin matang, bagi yang merasa matang, siap-siaplah menuju kebusukan dan mati.

4. Prinsip Peningkatan Mutu, tak ada waktu dan alasan untuk memulai dari awal, sempurnakan apa yang telah ditemukan dengan inovasimu sendiri hingga benar2 menuju sempurna.

5. Prinsip Inspirasi, yang namanya belajar itu perlu guru atau parner, temukan partner sejatimu,yang memiliki visi dan misi sama denganmu dan ubahlah dunia...

sumber: http://education.poztmo.com/2011/11/prinsip-kerja-seorang-jenius-bagaimana.html

Minggu, 04 Maret 2012

 

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Aku berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari. Beliau berkata kepadaku, “Wahai anak, sesungguhnya aku akan ajari engkau beberapa kalimat:


1. اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ،
“Jagalah Allah niscaya Allah menjagamu”


Yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, Allah akan menjaga dunia dan akhiratmu.


2. اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدُهُ تُجَاهَكَ
“Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu”


Jagalah batasan-batasan dan hak-hak Allah. Engkau akan mendapati Allah memberikan taufiq kepadamu serta membantumu.


3. إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta bantuan, minta bantuanlah kepada Allah.”


Maksudnya, jika engkau meminta bantuan dalam perkara dunia maupun akhirat, maka mintalah kepada Allah. Lebih-lebih dalam perkara yang tidak dimampui melainkan hanya oleh Allah saja, seperti menyembuhkan orang sakit, meminta rizki, maka ini adalah perkara yang khusus bagi Allah saja.
(Hal ini telah disebutkan oleh An-Nawawi dan Al-Haitami)


4. وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ, وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah, meskipun seluruh umat berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah. Dan jika mereka berkumpul untuk memudharatkanmu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat memudharatkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan.”


Maksudnya adalah beriman kepada takdir yang telah Allah tulis terhadap manusia, baik maupun jeleknya.


5.رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Pena-pena telah diangkat dan lembar-lembar telah kering.”
(HR. At-Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan shahih).


Maksudnya, tawakkal kepada Allah disertai dengan mengambil sebab, karena Rasulullah bersabda kepada pemilik unta, “Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.” (Hadits hasan, riwayat At-Tirmidzi).


Pada riwayat selain At-Tirmidzi:


6. “Kenalilah Allah di masa lapang, maka Allah akan mengenalmu di masa sulit.”


Tunaikanlah hak-hak Allah dan hak-hak manusia di kala lapang, maka Allah akan menyelamatkanmu di waktu kesempitan.


7. “Ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan luput darimu”


Jika Allah menahan sesuatu darimu, maka tidak akan sampai padamu. Dan apabila Allah memberimu sesuatu, maka tidak akan ada yang bisa menahannya.


8. “Ketahuilah bahwa pertolongan menyertai kesabaran”


Pertolongan untuk menghadapi musuh dan terhadap diri sendiri itu sesuai dengan kesabaran.


9. “Sesungguhnya ada kelapangan bersama kesusahan”


Kesusahan yang menimpa seorang yang beriman akan disusul oleh kelapangan setelahnya.


10. “Dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”


Kesukaran yang dirasakan oleh seorang muslim, maka akan datang setelahnya satu atau dua kemudahan.

(Dihasankan oleh pentahqiq Kitab Jami’ul Ushul dengan penguat-penguat hadits tersebut).

Faedah Hadits

  1. Cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada anak-anak. Beliau memboncengkan Ibnu Abbas di belakang beliau. Beliau juga memanggil Ibnu Abbas dengan ucapan, “Wahai anak” agar Ibnu Abbas memperhatikan apa yang beliau ucapkan.
  2. Memerintahkan anak-anak untuk taat kepada Allah dan menjauh dari maksiat kepada-Nya serta membawa kebahagiaan kepada mereka di dunia dan akhirat.
  3. Allah akan memenangkan orang yang beriman di saat sempit jika mereka menunaikan hak Allah dan manusia di masa lapang, sehat dan kaya.
  4. Menanamkan kepada jiwa anak-anak aqidah tauhid dengan meminta dan ber-isti’anah (meminta bantuan-pent) kepada Allah ta’ala semata. Ini merupakan kewajiban orang tua dan pendidik.
  5. Menanamkan kepada anak aqidah iman kepada taqdir, yang baik maupun yang jelek dan ini merupakan rukun iman.
  6. Mendidik anak agar optimis dalam menghadapi hidup mereka dengan keberanian dan penuh harapan supaya mereka menjadi sosok-sosok yang bermanfaat bagi umat.
    “Ketahuilah bahwa pertolongan menyertai kesabaran, sesungguhnya ada kelapangan bersama kesusahan dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”

Sumber:

(Dinukil dari http://ulamasunnah.wordpress.com dari buku Bagaimana Mendidik Putra-Putri Kita karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerjemah: Abu Umar Al-Bankawy, muraja’ah: Al-Ustadz Ali Basuki, Lc)
http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/untaian-nasehat/wasiat-nabawi-yang-penting-bagi-anak-anak/

Unordered List

Sample Text

Flag Counter
Diberdayakan oleh Blogger.

Verval SP

Japodadik

Sireal

Lapor BOS

Sirkas

Sirkas
Link Sirkas

PUPNS

PUPNS
Link PUPNS

Peta

Haram Merokok

Haram Merokok

e-Formasi

e-Formasi
Link e-Formasi

Daftar Blog Saya

Data Referensi

GIS

PIP

VIP

NISN

Verval PD

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget

Video

ini sumber lhoo